“Muslim Harus Berani Bercita-cita”
Sebuah cita-cita tak bisa bisa
direngkuh sambil ongkang-ongkang kaki, duduk manis, dan berpangku tangan. Tak
bisa pula diraih hanya dengan mengharapkan durian runtuh. Segalanya harus
diperjuangkan. Milikilah cita-cita yang tinggi, dan gantungkan cita-cita itu
kepada Allah yang memiliki sifat Ash-Shomad (tempat segala sesuatu bergantung)
karna semakin berat perjuangan untuk mendapatkannya.
“Gantungkan cita-cita mu setinggi
langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di
antara bintang-bintang,” demikian motivasi Bung Karno yang populer di negeri
ini dalam hal untuk bercita-cita.
Tentu saja beragam respon banyak
bermunculan, terlebih ungkapan hebat itu muncul ketika Indonesia baru saja
lahir sebangai suatu bangsa. Namun, pernah kah kita sadari bahwa sebuah kalimat
hebat tidak mungkin pernah lahir dari hati dan pikiran yang tak bernilai?
Bernilai disini memiliki etos juang
yang sangat tinggi, empati mendalam terhadap penderitaan bangsanya sendiri.
Dan, itulah yang dirasakan oleh para pahlawan bangsa terdahulu.
Dan, sebab itu, Albert Einstein
(1879-1955) lebih mendorong penduduk dunia menjadi manusia yang bernilai.
“Cobalah untuk tidak menjadi seorang yang sukses, tapi jadilah seorang yang
bernilai.”
Ungkapan ini terasa relevan di zaman
sekarang terlebih dalam kondisi pandemi saat ini. Faktanya memang tidak
sedikit. Misalnya ada anak sekolah yang malas belajar tapi dinyatakan lulus
juga. Kalau standar sukses adalah lulus, maka buat apa lulus tanpa nilai
pribadi yang kuat.
Oleh karna itu, Islam sangat mengutuk orang yang tidak mau berpikir dan tidak berakal terutama untuk meraih ilmu dan hikmah. Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya “Shaidul Khatir” menulis, “Barangsiapa yang menggunakan pikirannya yang jernih, niscaya ia akan menunjukkan untuk mencari kedudukan yang paling mulia, dan mencegahnya dari sikap ridha terhadap kekurangan dalam segala hal.”
